Saturday, February 21, 2015

Inilah 11 Cara Simpel Untuk Melatih Kemampuan Otak Kanan

Otak adalah organ yang mengatur segala kendali tubuh, termasuk proses berfikir. Otak terbagi atas otak kiri dan kanan. Meskipun terlihat sama tapi sebenarnya hal yang ada di dalam keduannya sangat berbeda. Otak kiri berperan dalam pemikiran hal hal yang logis dan rasional, sementara otak kanan mberkaitan dalam proses berfikir terhadap hal hal yang bersifat imajinatif.

Otak kanan berfungsi dalam perkembangan emotional quotient (EQ). Misalnya sosialisasi, komunikasi, interaksi dengan manusia lain serta pengendalian emosi. Pada otak kanan ini pula terletak kemampuan intuitif, kemampuan merasakan, memadukan, dan ekspresi tubuh, seperti menyanyi, menari, dan melukis

Tahukah anda cara melatih otak kanan anda? berikut beberapa caranya seperti dikutip dari laman theoa2014.wordpress.com yaitu :

Melatih Otak Kanan:
Nah, untuk melatih otak kanan anda, anda bisa melakukan beberapa teknik atau test berupa latihan-latihan pengaktifan otak kanan dibawah ini.

1. Eight game
Pura-puralah menulis angka delapan tidur atau simbol ? di udara dengan tangan kiri dan kanan secara bersama-sama. Permainan sederhana ini bertujuan untuk menyeimbangkan syaraf motorik kiri dan syaraf motorik kanan. Cobalah dan teruskanlah permainan ini setelah sarapan, selama dua menit setiap hari.

2. Thumb game
Acungkanlah jempol tangan kiri dan kelingking tangan kanan, sambil menyorongkan kedua belah tangan ke arah kanan. Sebaliknya, acungkanlah jempol tangan kanan dan kelingking tangan kiri, sambil menyorongkan kedua belah tangan ke arah kiri. Permainan sederhana ini bertujuan untuk menyeimbangkan syaraf motorik kiri dan syaraf motorik kanan. Cobalah dan teruskanlah permainan ini bersama teman-teman setelah makan siang, selama dua menit setiap hari.

3. Pattern game
Gambarlah pola-pola tertentu di atas kertas kosong, dengan tangan kiri dan kanan secara bersama-sama, ke arah dalam, luar, atas, dan bawah. Selain bertujuan untuk menyeimbangkan syaraf motorik kiri dan syaraf motorik kanan, permainan unik ini juga dapat menggali potensi visual. Cobalah permainan ini selama dua menit setiap hari, minimal 14 hari berturut-turut.

4. Specific crawl
Gerakkan tangan kanan serentak dengan kaki kiri. Kemudian balaslah, gerakkan tangan kiri serentak dengan kaki kanan. Idealnya, siku tangan menyentuh lutut. Iringi pula dengan lagu favorit. Selain bertujuan untuk menyeimbangkan syaraf motorik kiri dan syaraf motorik kanan, gerakan ini juga dapat membuat pikiran terbuka terhadap hal-hal yang baru. Cobalah gerakan ini secara 10 menit setiap hari, minimal 14 hari berturut-turut.

5. Specific posturing
Bertumpulah di lantai dengan lutut kiri dan tangan kanan. Sementara itu, kaki kanan diluruskan ke belakang dan tangan kiri diluruskan ke depan. Posisi ini bertujuan untuk mengaktifkan syaraf-syaraf tertentu secara umum dan otak kanan secara khusus. Cobalah posisi ini selama 10 menit setiap hari, minimal 14 hari berturut-turut.

6. Specific relaxing
Tip ini khusus anak-anak. Pertahankan posisi relaksasi setengah tengkurap. Biasakan pula posisi ini ketika anak tidur. Semakin dini, semakin baik. Biasakan pula posisi ini ketika anak sakit, sambil dipeluk oleh orang tua. Dengan demikian, otak anak berada dalam frekuensi alpha dan anak akan merasa damai karenanya.

7. Rotated reading
Balikkan sebuah tulisan (atas bawah), lalu bacalah tulisan tersebut dari kanan ke kiri. Cobalah dan teruskanlah kebiasaan baru ini selama 2 menit setiap hari.

8. Left-handed handling
Peganglah gagang pintu dan bukalah pintu dengan tangan kiri. Cobalah dan teruskanlah kebiasaan baru ini setiap hari.

9. Left-handed brushing
Gosoklah gigi dengan tangan kiri pada pagi hari. Untuk sore atau malam hari, tetaplah menggosok gigi dengan tangan kanan. Cobalah dan teruskanlah kebiasaan baru ini setiap hari.

10. Left-handed writing
Tulislah nama panggilan Anda dengan tangan kiri di atas kertas kosong. Cobalah kebiasaan baru ini minimal 10 kali sehari, minimal selama 14 hari berturut-turut. Niscaya Anda akan menemukan keajaiban, di mana pada hari ke-3 Anda dapat menulisnya dengan sangat mudah.

11. Left-handed signing
Buatlah tanda tangan Anda dengan tangan kiri di atas sehelai kertas kosong. Cobalah kebiasaan baru ini minimal 10 kali sehari, minimal selama 14 hari berturut-turut. Niscaya Anda akan menemukan keajaiban, di mana 2 dari 10 tanda tangan tersebut menyerupai bentuk aslinya.

>> >> Baca Selengkapnya...

Ternyata Kunyit Dapat Mendorong Pertumbuhan Sel-Sel Otak

Kari ayam yang mengandung kunyit mungkin berguna untuk otak.
Rempah yang biasanya dipakai untuk meracik bumbu kari mungkin dapat membantu otak untuk memperbaiki dirinya sendiri, menurut sebuah laporan yang dimuat di jurnal Stem Cell Research and Therapy.

Studi yang dilakukan di Jerman ini menyebutkan bahwa zat yang ada dalam kunyit dapat mendorong pertumbuhan sel-sel saraf yang diduga merupakan bagian dari perangkat perbaikan otak.

Ilmuwan mengatakan penelitian ini, yang berdasarkan pada riset menggunakan tikus, mungkin dapat membuka jalan untuk obat-obatan untuk stroke dan penyakit Alzheimer di masa mendatang.
Namun, menurut mereka uji coba masih banyak perlu diperlukan untuk mengetahui apakah hal ini berlaku pada manusia.

Penelitian sebelumnya menyebutkan kunyit mungkin memiliki zat pelawan kanker.
Para peneliti dari Institute of Neuroscience and Medicine di Julich, Jerman, mempelajari efek aromatic-turmerone - zat yang ditemukan ada dalam kunyit.

Tikus disuntik dengan zat ini dan kemudian otak mereka dipindai.
Bagian tertentu otak, yang diketahui terlibat dalam pertumbuhan sel saraf, terlihat lebih aktif setelah dimasuki aromatic-turmerone.

Peneliti mengatakan zat ini mendorong pengembangbiakan sel otak.
Dalam satu percobaan yang berbeda, peneliti memandikan sel saraf hewan-hewan pengerat dalam konsentrat berbeda yang mengandung ekstrak aromatic-tumerone.

Sel saraf memiliki kemampuan berubah menjadi sel otak jenis berbeda dan para ilmuwan menyatakan sel-sel ini memiliki peran untuk melakukan perbaikan jika otak mengalami kerusakan atau terkena penyakit.

Dr Maria Adele Rueger, yang menjadi bagian tim penelitian, mengatakan: "Pada manusia dan hewan yang lebih berkembang kemampuan mereka tampaknya tidak memadai untuk memperbaiki otak, tapi pada ikan dan hewan yang lebih kecil terlihat bekerja dengan baik."

Sumber : bbc.co.uk

>> >> Baca Selengkapnya...

Benarkah Manusia Hanya Memakai 10 Persen Kemampuan Otak

 Otak adalah hal yang sangat luar biasa, ia membantu manusia dalam beraktivitas sampai berimajinasi. Tapi ada perkataan yang mengatakan bahwa selama hidupnya manusia hanya menggunakan 10% (sepuluh persen) kemampuan otaknya. Bahkan ada yang mengatan bahwa Albert Einstein dapat menggunakan lebih dari 10% kemampuan otaknya itu. Benarkah manusia hanya memakai 10% kemampuan otak? Mitos atau Fakta?

Wow, jika manusia selama hidupnya hanya menggunakan 10% kemampuan otaknya, apa yang dapat dilakukan manusia jika ia dapat menggunakan 90% kemampuan otak manusia? Manusia itu pasti sangat menakjubkan.

Tapi sayangnya, perkataan ini hanyalah mitos, pada dasarnya setiap manusia dalam beraktivitas ringan saja memerlukan kinerja otak, bahkan untuk menjalankan sistem di tubuh kita, manusia memerlukan kinerja otak.

Otak itu sendiri terdiri dari saraf-saraf yang saling terhubung, pada saat kinerja otak dimulai, maka saraf-saraf ini akan memberikan respon-respon antara saraf yang satu ke saraf yang lainnya, lalu respon itu hilang jika kinerja selesai.

Hal inipun dibuktikan oleh perkataan-perkataan para ahli berikut ini, seperti dikutip dari laman sambalijo45.blogspot.com :

Eric Chudler, Direktur Center for Sensorimonitor Neural Engineering di University of Washington
Eric Chudler mengatakan perkataan mengenai mitos 10% kemampuan otak ini hanyalah mitos belaka.

Ia mengatakan jika itu benar, maka manusia itu pastilah sekarat. Ia mengatakan pada saat ia merekam kegitaan otak dengan EEGS atau PET scan, ia tidak melihat adanya bagian otak yang diam dan tidak terpakai.

Larry Squire, peneliti neuroscientist di Veterans Administration Hospital dan University of California San Diego

Larry Squire mengatakan bahwa setiap bagian otak yang terluka pasti ada konsekuensi dan akibatnya. Kemungkinan besar mitos ini dimulai karena adanya bagian otak yang terluka.

Seorang peneliti pernah menganalisa perilaku tikus dengan mengambil sebagian otak mereka. Mereka meletakkan tikus itu di dalam lorong-lorong untuk melihat apakah tikus-tikus tersebut dapat keluar dari sana. Ternyata tikus dengan setengah otak itu seringkali bisa menemukan jalan keluar.

Ini kemudian menjadi kesimpulan bahwa manusia hanyalah menyia-nyiakan kemampuan otak mereka. Larry Squire juga mengatakan “Kenapa otak kita bertambah besar jika kita hanya menggunakan sedikit bagian saja?”

Barry Beyerstein, Professor Psikologi Simon Fraser University

Barry Beyerstein yang telah bertahun-tahun mempelajari mitos ini menggunakan PET dan FMRI, menemukan bahwa pemindaian dari teknologi tersebut jelas menunjukkan seluruh bagian otak terpakai.

Memang tidak langsung digunakan secara bersamaan, tetapi untuk seluruh kegiatan sehari-hari yang dilakukan, seluruh bagian otak digunakan. Hal ini sama seperti otot, dimana sluruh otot tubuh tidak digunakan secara bersamaan, melainkan hanya di kegiatan tertentu, tapi pada dasarnya untuk seluruh kegiatan sehari-hari, semua otot di tubuh kita digunakan.

Lalu bagaiman dengan mitos yang mengatakan bahwa otak akan semakin besar untuk orang yang lebih pintar? Hal ini tidaklah salah sepenuhnya, tapi juga tidak benar.

Otak manusia tidak akan bertambah besar jika seseorang semakin pintar, tapi otak manusia memiliki ukuran yang tidak berubah. Memang, otak yang lebih besar menandakan bahwa orang itu memiliki otak yang memiliki kapasitas dan kinerja yang lebih baik, tapi hal itu tergantung atas seberapa sering orang tersebut menggunakan kemampuan otaknya.

Otak manusia sendiri, semakin sering digunakan ia tidak akan bertambah besar melainkan hanya menambah jumlah lipatan yang ada di otak terssebut. Peneliti membuktikan bahwa otak Albert Einstein memiliki jumlah lipatan yang lebih banyak dari otak manusia biasa.

Albert Einstein juga mengatakan bahwa “Setiap orang itu jenius, tetapi jika Anda mengecap sebuah ikan akan kemampuannya dalam memanjat pohon, maka seumur hidupnya ia akan mempercayai bahwa dirinya itu bodoh.” Hal ini menandakan bahwa kita tidak boleh mencap seseorang itu bodoh, melainkan kita harus percaya bahwa setiap orang memiliki keahlian di bidang yang berbeda.

Oleh karena hal-hal inilah, kita harus lebih giat menggunakan otak kita, baik dalam belajar, berpikir atau berimajinasi. Dengan begitu kita akan menambah kemampuan otak kita.

>> >> Baca Selengkapnya...

Ternyata Otak Kita Mampu Membuat Keputusan Meskipun Sedang Tidur Pulas

Otak adalah pusat pengaturan segala ritme tubuh. Bahkan saat tidur, otak tidak tidur. Tidur adalah saatnya otak melakukan beberapa pekerjaan penting, berikut diantaranya:

Membuat keputusan

Penelitian terbaru dalam jurnal Current Biology menunjukkan bahwa saat tidur, otak justru sibuk memproses informasi dan bersiap-siap untuk beraktifitas, serta membuat keputusan saat tak sadar. Otak memproses berbagai hal dan siap mengambil keputusan yang telah dipersiapkan tersebut saat bangun.

Menciptakan dan menguatkan ingatan

Pernah disarankan untuk tidur terlebih dulu baru bangun lagi di tengah malam untuk belajar? Ternyata hal itu ada benarnya. Saat tidur, otak mengumpulkan ingatan-ingatan baru dan mempertajam yang lama lalu menghubungkannya. Proses ini terjadi baik saat tidur REM maupun non-REM.

“Kami telah mengungkap bahwa tidur sebelum belajar dapat membantu mempersiapkan otak Anda mengawali terbentuknya memori,” tutur Dr. Matthew Walker dari University of California.

Sebaliknya, belajar semalam suntuk dan kurang tidur menurunkan kemampuan mengingat hingga 40 persen.

Mengeluarkan racun

Tugas lainnya yang dikerjakan otak saat tidur adalah mengeluarkan racun. Hal ini terlihat saat pengamatan pada otak tikus. Otak tikus membersihkan molekul yang rusak yang berhubungan dengan neurodegenerasi. Ruang antarsel bertambah saat tak sadarkan diri, memberikan kesempatan bagi otak untuk membuang molekul racun. Kurang tidur dapat menyebabkan racun-racun di otak menumpuk dan berakhir pada penyakit gangguan saraf seperti Parkinson dan Alzheimer.

Sumber : Rimanews .com

>> >> Baca Selengkapnya...

Hindarilah Konsumsi Burger Karena Bisa Perlambat Kerja Otak

Sudah bukan rahasia lagi bila burger dan kentang goreng, memiliki efek buruk terhadap kesehatan dan lingkar pinggang Anda. Namun dalam penelitian baru ditemukan bahwa makanan khas barat tersebut memengaruhi otak manusia

Para peneliti menemukan, mengonsumsi makanan tersebut secara rutin saat usia 14 tahun, maka saat usia 17 tahun fungsi otak akan melambat dan menurunkan kualitas pengerjaan tugas sekolah.

Dari beberapa anak sekolah yang terlibat dalam survei, mereka yang pola makan sering mengonsumsi kentang goreng, daging olahan dan minuman ringan memiliki pengaruh terhadap reaksi otak. Seperti kemampuan mental, visual, pembelajaran dan memori.

Sementara mereka yang mengonsumsi banyak buah dan sayur hijau memiliki kinerja kognitif yang positif.

Dr. Annet Nyaradi seorang peneliti mengatakan bahwa hal itu bisa terjadi karena peningkatan kandungan mikronutrien dari sayuran berdaun hijau yang berhubungan dengan perkembangan kognitif yang ditingkatkan.

Beberapa faktor yang mungkin berperan dalam penurunan fungsi otak adalah tingkat omega 6 dan asam lemak dalam makanan yang digoreng.

Menurut Science Network, jalur fungsi metabolisme yang baik adalah seimbangnya rasio asam omega tiga dan omega enam asam lemak 1:1. Tetapi pola makan di barat, menggesernya menjadi 01:20 atau 01:25.

Asupan tinggi lemak dan karbohidrat sederhana telah dikaitkan dengan penurunan fungsi hippocampus, yang merupakan struktur otak terpusat. Hal ini melibatkan dalam pembelajaran dan memori yang meningkatkan volume selama masa remaja.

"Masa remaja merupakan periode kritis untuk perkembangan otak. Ada kemungkinan bahwa pola makan yang buruk merupakan faktor risiko yang signifikan selama periode ini," kata Dr. Nyardi, seperti dilansir Daily Mail.

Penelitian ini dilakukan University of Western Australia dan Telethon Institute, yang mengamati 602 anak-anak dari Western Australian Pregnancy Cohort Study. Setiap peserta diminta untuk mengisi kuisioner frekuensi makanan pada usia 14 untuk mengidentifikasi analisis faktor kesehatan dan pola makan.

Sumber : viva.co.id

>> >> Baca Selengkapnya...

Bermain di Taman Bikin Kemampuan Membaca Anak Meningkat

Membaca adalah salah satu kebiasaan baik yang harus ditanamkan pada buah hati sejak dini. Oleh karena itu sebagai orang tua Anda wajib untuk mengajak buah hati dalam kegiatan positif ini.

Tidak bisa dipungkiri bahwa membaca terdengar menjadi hal yang sangat membosankan terutama untuk anak-anak. Jika Anda menemui kendala ini, ajaklah mereka untuk bepergian ke taman. Cara unik ini dijamin mampu membuat kemampuan membaca meningkat. Sebab sebuah penelitian yang dilansir dari dailymail.co.uk menemukan bahwa anak yang aktif lewat aktivitas fisik akan memiliki kemampuan otak yang tajam serta mampu menyerap secara cepat saat membaca.

"Aktivitas fisik mampu meningkatkan aliran darah ke tubuh termasuk otak. Otak yang penuh dengan oksigen yang terkandung dalam darah tersebut akan meningkat fungsinya. Selain mampu memahami bacaan secara cepat dan membuat anak mengerti, kemampuan berbahasa mereka juga akan meningkat secara tajam. Kami membuktikan hal ini lewat serangkaian tes menggunakan electroencephalography. Alat ini mampu merekam aktivitas otak anak," jelas Profesor Charles Hillman, pemimpin penelitian ini dari University of Illinois.

Dia menambahkan, serangkaian aktivitas fisik yang dilakukan oleh anak-anak di tempat terbuka juga mampu meningkatkan kebugaran fisik mereka. Sehingga mereka jadi lebih sehat dan terhindar dari obesitas.

Sumber : Merdeka.com

>> >> Baca Selengkapnya...

Tahukah Anda Bahwa Bayi Ingin Berbicara Sejak Usia 7 Bulan

 Bayi biasanya mulai berbicara pada ulang tahun pertamanya. Namun penelitian baru menyarankan berbicara pada bayi Anda merangsang otak dengan baik sebelum dia mengucapkan kata-kata pertama.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences, membandingkan bagaimana bayi usia 7 bulan dan 11 bulan dari keluarga yang berbahasa Inggris memproses suara dari bahasa Inggris dan Spanyol.

Para peneliti dari University of Washington meneliti 57 bayi berusia 7, 11, dan 12 bulan. Bayi-bayi itu didudukkan pada tempat berbentuk telur, scanner otak noninvasif, yang mengukur aktivasi otak dan mendengarkan suara pidato yang dimainkan melalui pengeras suara. Hasilnya, bayi usia 7 bulan merespon sama untuk suara dari bahasa Inggris dan Spanyol.

"Bayi adalah warga dunia. Mereka tidak berkomitmen untuk setiap bahasa atau bahasa apapun. Mereka terbuka," kata peneliti utama, Dr. Patricia Kuhl.

Pada bayi 11 bulan, mereka melihat aktivasi yang lebih besar dari daereah motorik otak untuk suara bahasa Inggris. Kuhl mengatakan ini menunjukkan bahwa otak bayi berkembang lebih lanjut. Mereka memusatkan perhatian pada suara yang akrab bagi mereka.

"Apa yang kami percaya terjadi dimana bayi sangat ingin berbicara kembali. Ini berarti bayi meski dalam usia dini berlatih dan berlatih dan mengaktifkan otak dengan cara sehingga kita menyajikan sesuatu kepada mereka," ujarnya.

Temuan ini memperkuat pentingnya berbicara dengan bayi Anda, bukan hanya "mencemplungkan" dia di depan televisi. "Ketika (bayi) melihat TV, mereka tampak tertarik tapi otak mereka tidak belajar. Bayi mengenali dan bisa membedakan suara hanya jika mereka mendengar suara aktif yang hadir untuk mereka, ketika berinteraksi secara sosial," kata Kuhl.

Sumber : Metrotvnews.com

>> >> Baca Selengkapnya...

Olahraga Bisa Menghambat Senyawa Stres Sampai ke Otak

Sudah banyak diketahui bahwa olahraga bisa membuat badan dan pikiran lebih rileks. Sebuah penelitian terbaru menunjukkan, efek ini didapat dengan cara menghambat senyawa pemicu stres agar tak sampai otak.

Para ilmuwan Swedia mengungkap hal itu melalui eksperimen pada tikus. Dengan suara-suara dan kilatan cahaya, para ilmuwan membuat tikus-tikus di laboratorium stres lalu mengamatinya. Dalam 5 pekan, para tikus mengalami depresi dan penurunan nafsu makan.

Di kandang lain, para ilmuwan melakukan eksperimen yang sama dengan tikus yang mengalami rekayasa genetika. Tikus-tikus yang ini sangat berotot, bahkan meski tidak berolahraga, dan tidak mengalami stres. Dari situlah, petunjuk didapat. Rahasia ada pada otot.

Tikus-tikus berotot mampu menghambat senyawa penyebab stres, sehingga tidak pernah mencapai otak. Senyawa kynurenine tersebut bisa menyebabkan depresi ketika sudah mencapai otak.

Eksperimen lain dilakukan pada tikus-tikus normal yang tidak mengalami rekayasa genetika. Tikus-tikus ini diberi latihan fisik, yakni lari-lari di sebuah roda. Hasilnya mengejutnak, hanya dalam beberapa pekan olahraga bisa membuat tikus-tikus itu lebih kebal terhadap stres.

"Otot yang terlatih akan menghasilkan enzim yang membersihkan tubuh dari senyawa-senyawa berbahaya," kata sang peneliti, Jorge Ruas dirangkum dari berbagai sumber.

Stres dan depresi merupakan salah satu masalah umum yang banyak dialami masyarakat perkotaan. Ada banyak obat yang tersedia untuk mengatasinya, namun masing-masing punya efek sampingnya. Nah jika bisa diatasi hanya dengan olahraga, kenapa tidak?

Sumber : detik.com

>> >> Baca Selengkapnya...

Inilah Cara Mengubah Kepribadian Anda dalam 10 Minggu

Penelitian yang dilakukan Universitas Wollongong menunjukkan, hanya dibutuhkan 10 minggu adalah bagi seseorang untuk mengubah beberapa aspek dari kepribadian mereka.

Psikolog Dr Sue Martin melakukan penelitian untuk melihat apakah orang-orang bisa dengan sengaja mengubah aspek yang berbeda dari kepribadian mereka dalam 10 minggu, asalkan mereka memiliki paduan motivasi dan pelatihan professional yang tepat.

"Penelitian sebelumnya telah menemukan bahwa berbagai faktor dapat menyebabkan perubahan kepribadian, faktor-faktor seperti perubahan situasi sosial, penuaan, perawatan medis dan psikoterapi,” rincinya.

Psikolog Wollongong, Dr. Sue Martin, mengatakan, hal yang mungkin untuk mengubah kepribadian seseorang dalam 10 minggu, setelah melakukan penelitian bersama Universitas Wollongong.

Ia menjelaskan, "Namun, tak satupun dari mereka dengan sengaja melihat 'bagaimana jika seseorang ingin mengubah kepribadian mereka dan benar-benar berniat melakukannya dengan bantuan seorang ahli?’."

Sebagaimana dikutip dari laman tribunnews.com, Untuk membentuk kepribadian seseorang, ada 5 ciri yang luas: emosionalitas, kehati-hatian, keramahan, keterbukaan dan ketegasan.

"Emosionalitas adalah sejauh mana kita bereaksi secara emosional ketika sejumlah hal terjadi pada diri kita, dan 50% peserta ingin mengubah aspek kepribadian mereka. Seperempat peserta ingin mengubah kesadaran yang mengacu pada disiplin diri yang harus kita tindaklanjuti demi mencapai tujuan,” terangnya.

"Keterbukaan adalah salah satu sifat yang paling jarang dirubah karena sebagian besar peserta tampak puas dengan betapa menerimanya mereka dengan perasaan mereka sendiri dan perasaan orang lain," tambahnya.

Pelaksanaan studi

Sebelum penelitian, Dr Sue bersama dengan tim pelatih dan psikolog mengembangkan teknik unik yang terkait dengan aspek kepribadian yang berbeda.

Dari sana, profil kepribadian dilakukan untuk memungkinkan peserta merefleksikan aspek kepribadian mereka yang mereka sukai dan aspek yang mereka ingin ubah.

Motivasi klien untuk berubah kemudian dinilai demi memutuskan apakah waktunya tepat atau tidak untuk mengubah kepribadian.

Lima puluh peserta diberi sesi pelatihan satu jam per minggu, selama 10 minggu, untuk mengutak-atik perubahan aspek dalam kepribadian mereka.

"Dalam 5 minggu, kami memeriksa untuk melihat apakah kami, dan klien, berada di jalur yang benar dan apakah kami harus mengubah teknik yang digunakan untuk mencapai perubahan kepribadian yang diinginkan,” kemukanya.

Ia lantas mengimbuhkan, "Kami terus melakukannya sampai minggu kesepuluh dan kemudian menganalisa perubahan individu.”

Hasil studi

Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah 10 minggu pelatihan, perubahan signifikan terhadap aspek kepribadian yang berbeda tampak nyata pada semua klien.

Dr Sue mengatakan, inilah saatnya untuk menerapkan teknik yang sukses dalam profesi ini.
"Kini, tahap berikutnya adalah untuk menyebarkan informasi ini sehingga psikolog dan pelatih dapat mempraktekkan ini dan berpotensi menerapkannya pada sekelompok orang, tak hanya individu," ujarnya.

Sumber : tribunnews.com
>> >> Baca Selengkapnya...

Inilah Dampak Hidup Terasing di Sel Isolasi Bagi Kesehatan Mental Napi

Pada era ‘70an, Brett Collins menghabiskan lebih dari 60 hari hidupnya dalam sel gelap di penjara Long Bay dan Maitland, negara bagian New South Wales. Kondisinya gelap, tak ada jendela, bahkan ia pun tak bisa melihat tangannya sendiri.

Satu-satunya yang nampak adalah cahaya redup di bawah pintu ketika sipir penjara berjalan melewati sel-nya.

Brett divonis 17 tahun penjara dengan 8,5 tahun masa kurungan tanpa pembebasan bersyarat, setelah terbukti bersalah melakukan perampokan dan penyerangan bersenjata di Sydney pada bulan Desember 1971.

Brett memperkirakan, ia menghabiskan 5 dari 10 tahun masa hukumannya di sel isolasi, baik di dalam sel gelap tanpa jendela dan cahaya alami maupun di dalam sel terpisah yang memiliki pencahayaan.

Para tahanan yang ditempatkan di sel isolasi mengalami serangkaian gangguan kesehatan mental seperti kecemasan, kepanikan, insomnia, ketakutan akut, mudah marah dan depresi.

Di negara bagian New South Wales, seorang tahanan ditempatkan di sel isolasi jika ia menjadi ancaman bagi orang lain, atau bagi keamanan atau bagi kehidupan di dalam penjara.

Sel isolasi atau pengasingan, atau yang resminya disebut ‘penahanan terpisah’, adalah situasi ketika seorang narapidana ditahan dalam kondisi terisolasi dari seluruh tahanan lainnya di dalam sebuah sel terpisah, dengan stimulasi lingkungan yang minimum.

Bentuk lain dari pemisahan meliputi sel yang disebut sebagai ‘sel penilaian’, yang digunakan untuk menampung para tahanan yang beresiko melukai diri mereka sendiri. Sel ini berada di bawah pengawasan kamera, dan tahanan di dalamnya diatur oleh sebuah rencana manajemen yang dibuat oleh Tim Penanggulangan Resiko.

Brett Collins yakin, ia ditempatkan di sel isolasi karena menulis keluhan kepada Lembaga Bantuan Hukum New South Wales mengenai perlakuan tak adil yang diterimanya dari gubernur penjara – ini kemudian terbukti tak benar dan Brett pun dihukum.

Brett mengatakan, ia juga dipindah-pindahkan dan ditempatkan dalam penjagaan yang terpisah di berbagai penjara New South Wales, karena ia dipandang sebagai ‘masalah’ oleh pihak penjara ketika berbicara untuk tahanan lain sebagai salah satu perwakilan mereka di level lokal dan negara bagian.

Dampak bagi kesehatan mental

Para tahanan yang ditempatkan di sel isolasi mengalami serangkaian gangguan kesehatan mental seperti kecemasan, kepanikan, insomnia, ketakutan akut, mudah marah dan depresi.

Don Grant, psikiater forensik yang dulu bekerja di Layanan Kesehatan Mental Forensik di Queensland, mengatakan, dampak-dampak psikologis ini adalah hasil dari: isolasi sosial, yang bisa mengarah ke perasaan terasing; kebosanan dan perampasan panca indera, yang menyebabkan aktivitas otak melambat; dan kurangnya kontrol dengan absennya otonomi pribadi, yang mengarah ke hilangnya kepercayaan diri dan disfungsi sosial ketika sang tahanan akhirnya dibebaskan.

Isolasi jangka panjang dengan kurangnya aktivitas fisik, interaksi sosial, dan stimulasi visual telah mengarah pada depresi dan stres, serta perubahan dalam struktur otak sebagai konsekuensinya.

Hippocampus atau bagian otak yang digunakan untuk menyimpan memori dan membuat keputusan, akan menyusut secara drastis di dalam otak mereka yang depresi dan stres berkepanjangan. Ada bukti yang juga menyebut bahwa semakin lama orang mengalami depresi dan tak mendapat perawatan, semakin besar peluang hippocampus-nya untuk mengecil, dan mereka memiliki kesulitan untuk mengendalikan stres serta emosi.

Pada tahun 2011, Juan Mendez, Perwakilan PBB dalam bidang kekerasan, kejahatan dan hukuman tak berperikemanusiaan, mendesak adanya pelarangan global bagi praktek penahanan terpisah atau sel isolasi dalam jangka waktu lama, kecuali berada dalam kondisi khusus dan berlangsung sesingkat mungkin. Ia juga meminta agar penahanan terpisah tak berlaku bagi remaja dan orang-orang dengan keterbatasan mental.

Juan menyimpulkan bahwa 15 hari di sel isolasi bahkan merupakan penyiksaan atau perlakuan kejam, tidak manusiawi atau merendahkan, dan 15 hari adalah batas maksimal karena setelahnya efek psikologis berbahaya bisa saja terjadi.

Sumber : tribunnews.com

>> >> Baca Selengkapnya...

Saat Lelah dan Mengantuk Janganlah Mengambil Keputasan Kalau Tidak Ingin Menyesal

 “In my long political career, most of the mistakes I made, I made when I was too tired,  “You make better decisions when you're not too tired. So that would be my only advice.” (Bill Clinton, mantan Presiden Amerika Serikat).

Nasihat Clinton tersebut memang tidak berlebihan. Tidur dan beristirahat bukan masalah sepele. Sudah banyak kecelakaan fatal dan kejahatan terjadi karena kurangnya waktu istirahat. The National Sleep Research Project mencatat, meledaknya pesawat ulang alik Challenger tahun 1986 yang menewaskan ketujuh astronotnya dipicu oleh kesalahan teknis gara-gara sang mekanik kurang tidur.

Salah satu hal yang paling terdampak oleh kurangnya waktu tidur adalah kemampuan kognitif,  termasuk kemampuan kita mengambil keputusan. Seperti yang disampaikan oleh Clinton, orang yang kurang tidur sulit berpikir teliti dan kemampuan analisanya rendah.

Tentu kita jadi bertanya-tanya bagaimana para wakil rakyat yang bersidang hingga dini hari untuk menentukan para pimpinan DPR/MPR bisa berpikir dengan jernih. Kita melihat sendiri bagaimana sidang tersebut dipenuhi oleh teriakan dan hujatan.

"Pengaruh kurang tidur terhadap kemampuan mengambil keputusan sangat erat. Saat tidur, semua dibangun dalam tubuh, terutama kemampuan kognitif dan kestabilan emosi. Makanya orang yang kurang tidur kemampuan otaknya turun," kata Dr.Andreas Prasadja, konsultan utama di klinik gangguan tidur RS. Mitra Kemayoran Jakarta, saat dihubungi Kompas.com

Kemampuan kognitif terutama dibangun saat tahap tidur mimpi (REM) atau disebut juga tidur dalam. "Hanya dengan tidur REM ini kita bisa tetap waras. Ini karena saat mimpi, semua emosi-emosi yang kita pendam saat terjaga bisa dikeluarkan dengan aman, tidak menyakiti orang lain," kata Andreas.

Riset-riset tentang pengaruh tidur terhadap pengambilan keputusan juga sudah banyak dilakukan, namun menurut Andreas orang Indonesia masih banyak yang mengabaikan kesehatan tidur.

Salah satu penelitian yang dilakukan terhadap para dokter bedah menunjukkan, dokter bedah yang kelelahan cenderung mengambil keputusan yang buruk. "Karena itu untuk pembedahan yang sudah terencana tidak boleh dilakukan pada malam hari," ujar dokter yang menjadi anggota American Academy of Sleep Medicine ini.

Sementara itu pada orang yang mengalami gangguan sleep apnea (henti napas saat tidur) juga menunjukkan kemampuan mereka dalam mengambil keputusan buruk. Sleep apnea menyebabkan banyak area otak rusak, terutama di bagian otak frontal yang berpengaruh pada pengambilan keputusan.

"Orang yang sudah lelah dan mengantuk cenderung ngaco dan prose berpikirnya lamban. Mereka juga jadi gampang dipengaruhi. Oleh karena itu pengambilan keputusan publik sebaiknya tidak dilakukan saat waktunya istirahat," kata Andreas.

>> >> Baca Selengkapnya...

Inilah Cara Paling Gampang Untuk Menaklukkan Rasa Cemas Saat Ujian CPNS


“Besok mau ujian CPNS. Bisa jawab, ga, ya?”

“Besok mau interview. Duh, takut nih, kalau salah jawab.”

“Besok hari pertama kerja. Gimana, ya, rasanya?”

Apa yang terlintas di dalam benak Anda ketika membaca monolog di atas? Hehe, ya, kecemasan. Monolog di atas menggambarkan tentang rasa cemas yang dialami seseorang saat hendak menghadapi peristiwa-peristiwa penting dalam hidupnya. Ia cemas saat hendak mengikuti ujian seleksi CPNS. Mengapa cemas? Karena ia takut tidak bisa menjawab soal yang ada. Ia cemas saat hendak mengikuti wawancara kerja lantaran takut melakukan kesalahan saat menjawab pertanyaan sang interviewer. Selain itu, ia juga cemas saat hari pertama kerja lantaran ia membayangkan situasi kerja yang masih asing baginya.

Rasa cemas merupakan perasaan yang lumrah kita alami manakala kita hendak menghadapi situasi-situasi yang penting atau asing bagi kita. Kita cemas saat menghadapi ujian seleksi kerja, padahal ujian seperti itu bukan yang pertama kali kita ikuti. Namun demikian, kita tetap merasa cemas lantaran ujian itu penting bagi kita. Kita cemas saat pertama kali kerja karena kantor tempat kita bekerja merupakan tempat yang masih asing bagi kita.

Kecemasan, Informasi Negatif, dan Otak Manusia

Jika rasa cemas merupakan hal yang lumrah, pertanyaannya, bisakah kita mengurangi atau melenyapkan perasaan itu sedemikian sehingga kita tidak gugup manakala menghadapi situasi yang asing atau penting?

Sekalipun rasa cemas itu lumrah, tetapi jika kecemasan yang kita alami berlebihan dan menjadi-jadi, tidak menutup kemungkinan kecemasan itu bisa merugikan kita. Mengapa demikian? Karena, rasa cemas yang berlebihan membuat kita gugup, di mana kegugupan ini membuat otak kita sulit berpikir. Walhasil, tidak jarang, karena cemas, otak kita blank saat mengerjakan soal ujian. Otak kita juga blank saat menjawab pertanyaan sang interviewer.

Mekanisme biologis yang mendasari hal di atas yaitu bahwa otak manusia terdiri dari tiga bagian, yaitu neo cortex, otak mamalia, dan otak reptil. Neo cortex adalah bagian otak yang berfungsi untuk berpikir dan belajar. Sementara itu, otak mamalia berfungsi untuk menyampaikan informasi baik kepada neo cortex mapun kepada otak reptil. Nah, berbeda dengan fungsi dua bagian otak di atas, otak reptil berfungsi untuk merespons rangsangan dengan lawan atau lari (fight or flight).

Saat informasi yang diterima oleh otak mamalia berupa informasi yang positif, maka informasi tersebut diteruskan oleh otak mamalia ke neo cortex. Oleh neo cortex, informasi tersebut diolah bersama informasi lainnya. Nah, pengolahan informasi oleh neo cortex ini disebut sebagai proses berpikir. Sebaliknya, apabila informasi yang diterima oleh otak mamalia berupa informasi yang negatif (ancaman), maka informasi tersebut diteruskan oleh otak mamalia ke otak reptil. Selanjutnya, oleh otak reptil, informasi tersebut diolah sedemikian sehigga menghasilkan keputusan yang berupa melawan atau berlari.

Lantas, bagaimana jika situasi yang kita hadapi tidak dapat direspons dengan melawan atau pun berlari? Dalam situasi seperti ini, informasi negatif yang diterima oleh otak reptil akan diolah sedemikian sehingga menghasilkan keputusan yakni diam.

Pertanyaannya, situasi yang bagaimana yang tidak dapat direspons dengan lari atau pun lawan? Contohnya yaitu situasi di mana kita sedang menghadapi ujian/test seleksi kerja, menghadapi situasi di mana kita pertama kali kerja di sebuah kantor, menghadapi wawancara, dan sebagainya.

Di sini, rasa cemas terhadap ujian seleksi kerja mengindikasikan bahwa orang yang bersangkutan memiliki pandangan/penilaian yang negatif mengenai ujian itu. Apa penilaian negatif itu? Yaitu bahwa ujian itu mengandung soal-soal yang sangat sulit dikerjakan.

Nah, penilaian yang negatif ini ditangkap oleh otak mamalia. Dan, karena berupa penilaian/informasi yang negatif, maka informasi itu, oleh otak mamalia diteruskan ke otak reptil, bukan ke neo cortex.

Jadi, bagaimana kita menghadapi situasi yang baru, penting, dan mengancam tergantung pada bagaimana kita menilai/menanggapi situasi itu. Jika kita menanggapi/menilainya secara positif, maka neo cortex-lah yang akan merespons situasi itu. Sebaliknya, jika kita menggapi/menilainya secara negatif, maka otak reptillah yang akan merespons situasi itu.

Sebagai contoh, Anda hendak menghadapi ujian seleksi CPNS. Beberapa hari sebelum ujian berlangsung, Anda telah mempersiapkan diri dengan belajar. Tetapi, saat ujian itu berlangsung, otak Anda menjadi blank total. Anda lupa dengan apa yang telah Anda pelajari sebelumnya. Padahal, sehari sebelumnya, Anda tampak yakin bahwa Anda mampu menjawab semua soal karena Anda berpikir Anda telah belajar.

Dalam ilustrasi di atas, mengapa otak Anda blank? Jawabannya, karena Anda cemas dan takut saat menghadapi ujian itu. Lantas, mengapa Anda cemas dan takut? Karena, Anda membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang buruk mengenai ujian itu seperti “Bagaimana jika yang saya pelajari tidak muncul sama sekali di ujian ini?”, “Bagaimana jika orang lain bisa menjawab, tetapi saya tidak? Itu akan sangat memalukan.”

Nah, bayangan-bayangan yang buruk itu merupakan informasi yang negatif mengenai situasi yang sedang Anda hadapi. Dan, karena otak Anda menangkap informasi itu sebagai informasi yang negatif, maka ia (otak mamalia) meneruskan informasi itu ke otak reptil. Dan, karena tugas otak reptil bukan untuk berpikir, melainkan melawan, berlari atau diam, maka dia tidak mampu memikirkan jawaban untuk soal-soal ujian seleksi yang sedang Anda hadapi.

Sampai di sini, setidaknya, kita dapat mengambil kesimpulan yaitu bahwa rasa cemas yang kita alami tergantung pada bagaimana kita menanggapi sebuah situasi. Jika kita menilai situasi yang kita hadapi sebagai situasi yang menyenangkan (ini artinya, situasi itu positif), maka neo cortex yang akan mengambil peran merespons situasi itu. Dan, saat neo cortex yang bekerja merespons situasi yang ada, maka ia akan meresponsnya dengan sadar. Dengan begitu, kita mampu mengontrol respons dan tindakan kita terkait situasi itu.

Sebaliknya, jika kita menilai situasi yang sedang kita hadapi sebagai situasi yang mengancam/berbahaya (situasi negatif), maka otak reptillah yang mengambil peran merespons situasi itu. Dan, saat otak reptil yang bekerja merespons situasi itu, maka ia akan meresponsnya dengan respons otomatis seperti melawan, lari, atau diam. Dalam keadaan seperti ini (dalam keadaan di mana otak reptil mengambil alih tanggung jawab), kita tidak dapat mengendalikan diri kita secara sadar. Itulah mengapa, kita tidak dapat mengontrol perilaku kita manakala kita menghadapi situasi tertentu dengan cemas dan takut.

Jadi, kata kunci dari masalah kecemasan dan kontrol diri yaitu anggapan/penilaian/persepsi. Ini artinya, kita bisa mengurangi atau melenyapkan rasa cemas dengan merubah persepsi/penilaian kita mengenai situasi yangs edang kita hadapi.

Jika Anda cemas saat menghadapi ujian, rubahlah persepsi Anda mengenai ujian itu. Jika awalnya Anda menganggap soal-soal ujian itu sulit dikerjakan, maka ubahlah persepsi Anda itu dengan mengatakan kepada diri Anda sendiri bahwa soal-soal ujian itu mudah dikerjakan. Terlebih, Anda telah belajar beberapa hari sebelumnya.

Merubah Persepsi dengan Tindakan Nyata

Sekarang, pertanyaannya, semudah itukah merubah persepsi kita (dari persepsi yang negatif menjadi persepsi yang positif)? Jawabannya, bisa susah, bisa juga mudah, tergantung pada kuatnya kepercayaan kita pada persepsi itu, di mana kuat atau tidaknya kepercayaan kita terhadap persepsi kita tergantung pada bukti-bukti yang mendukung persepsi itu.

Jika bukti-bukti yang medukung persepsi itu kuat, maka kuat pula kepercayaan kita pada persepsi itu. Sebaliknya, jika bukti-bukti yang mendukung persepsi itu lemah/buktinya sedikit, maka lemah pula kepercayaan kita terhadap persepsi itu. Dan, semakin lemah kepercayaan kita terhadap sebuah persepsi, maka semakin mudah kita merubah persepsi itu.

Sebagai contoh, Anda sedang menghadapi ujian seleksi kerja. Menghadapi situasi itu, Anda memandang ujian sebagai hal yang menakutkan. Ini disebabkan, Anda berpikir/berpersepsi bahwa soal-soal ujian sangat sukar dijawab.

Nah, kepercayaan Anda terhadap persepsi di atas akan semakin kuat manakala persepsi itu disertai bukti-bukti yang mendukungnya. Lantas, bukti apa yang bisa mendukung persepsi itu? Buktinya dapat berupa kenyataan bahwa pada malam sebelumnya, Anda memang belum belajar sehingga tidak siap menghadapai ujian, atau saat melihat soal-soalnya secara sekilas, Anda memang tidak familiar dengan soal-soal itu.

Kenyataan bahwa Anda belum belajar menjelang ujian memperkuat kepercayaan Anda terhadap persepsi bahwa soal ujian sangat sulit dikerjakan. Yup! Anda percaya bahwa soal-soal ujian itu sangat sulit dikerjakan karena pada malam sebelumnya Anda tidak belajar.

Untuk itu, untuk merubah persepsi negatif Anda, Anda harus melakukan tindakan nyata sedemikian sehingga dapat meruntuhkan kepercayaan Anda terhadap persepsi itu. Jika saat ini Anda berpersepsi bahwa ujian seleksi CPNS sangat sulit, maka lakukan tindakan nyata untuk merubah persepsi Anda itu. Belajar dan persiapkan diri jauh hari sebelum ujian itu tiba. Jika Anda takut menghadapi wawancara kerja karena Anda perpikir bahwa sang pewawancara lihai dalam bertanya, maka runtuhkan pikiran/persepsi itu dengan mempersiapkan diri menghadapi pewawancara yang killer. Belajarlah cara menjawab pertanyaan wawancara dengan benar.

Kata “Namun Demikian” yang Ajaib

Setelah menyimak penjelasan di atas, masihkah ada yang mengganjal di hati Anda? Mungkin, Anda akan bertanya, “Bagaimana jika beberapa hari sebelumnya saya telah mempersiapkan diri latihan soal CPNS, tetapi begitu ujian tiba, rasa takut dan cemas tetap muncul, di mana rasa cemas ini membuat otak saya blank?”

Nah, jika tindakan nyata tidak cukup membuat kecemasan Anda berkurang/lenyap, maka Anda bisa mencoba cara satu ini. Cara apakah itu? gunakan frasa “namun demikian” dalam percakapan Anda dengan diri Anda sendiri (self-talk).

Misal, Anda hendak menghadapi ujian seleksi CPNS. Beberapa hari sebelumnya, Anda telah mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang. Tetapi, toh, saat ujian tiba, Anda tetap merasa cemas. Persiapan yang matang tidak cukup mampu melenyapkan kecemasan Anda.

Nah, dalam situasi seperti itu, katakan pada diri Anda sendiri seperti berikut: “Sudah pasti soal ujian CPNS susah. Namun demikian, apa salahnya mencoba? Lagipula, saya sudah mempersiapkan diri dengan matang. Jadi, jika saya gagal, yang terpenting saya telah berani mencoba,” atau “Sangat mungkin apa yang saya pelajari tadi malam tidak keluar di dalam ujian. Namun demikian, sangat mungkin pula saya mampu menjawabnya.”

Mengapa Anda perlu berkata demikian kepada diri Anda sendiri dan menyisipkan frasa “namun demikian” dalam ucapan Anda? Tujuannya yaitu untuk mengurangi kecemasan Anda. Apabila kecemasan Anda berkurang/lenyap, maka neo cortex Anda yang mengambil tanggung jawab dalam membuat keputusan. Ini artinya, Anda mampu memberdayakan otak Anda untuk berpikir.

Sekarang, pertanyaannya, apakah benar frasa “namun demikian” manjur digunakan untuk melenyapkan kecemasan? Hebat sekali frasa itu! Tetapi, apakah memang demikian kenyataannya?

Strategi di atas ditemukan oleh seorang pakar psikologi yang berkonsentrasi pada masalah kecemasan yakni Dr. Stanley Hibbs. Dalam sebuah konferensi, dia menjelaskan bahwa untuk menaklukkan rasa cemas, kita dapat menyisipkan frasa “namun demikian” dalam percakapan kita dengan diri kita sendiri (self-talk).

Bahkan, strategi di atas telah banyak membantu Jeffrey Bernstein (seorang pakar psikologi yang berkonsentrasi pada terapi keluarga, pasangan, anak-anak, dan remaja) dalam menyembuhkan pasien yang mengalami gangguan kecemasan. (http://www.psychologytoday.com/blog/liking-the-child-you-love/201410/you-can-lower-your-anxiety-thinking-about-one-word)

Nah, melihat asal usul strategi di atas, tentu berkurang, bukan, keraguan Anda tentang keajaiban dan keampuhan strategi itu?

Oleh karena itu, saat Anda cemas menghadapi ujian CPNS, saat Anda cemas menghadapi wawancara kerja, tidak ada salahnya untuk mencoba strategi di atas. Sisipkan frasa “namun demikian” dalam perkapakan Anda dengan diri Anda sendiri.

Sumber : aquariuslearning.co.id

>> >> Baca Selengkapnya...
 
Copyright © . Rahasia Otak Jenius - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger