Monday, July 15, 2013

Persamaan Antara Ilmu Psikologi dengan Ilmu Dukun


Sebagai salah satu jurusan yang saat ini cukup banyak peminatnya di Indonesia, ilmu psikologi mengalami perkembangan yang pesat. Dulu, mayoritas masyarakat hanya tahu kalau lulusan psikologi tugasnya menangani orang yang mengalami gangguan kejiwaan.

Sekarang, sarjana psikologi bisa berkarier di dunia industri, konsultan, atau pelatihan SDM. Sementara psikolog bisa berprofesi di dunia pendidikan, industri, pemerintahan, lembaga sosial, dunia hukum, bahkan dunia olahraga.

Bagi orang yang bergelut di dunia psikologi, umumnya sudah cukup paham mengenai batasan kompetensi yang mereka miliki. Tapi, masyarakat awam masih sering mencampuradukkan kompetensi seorang sarjana psikologi dan psikolog profesional.

Strata 1 psikologi hanya akan mengantarkan mahasiswa pada kompetensi sarjana psikologi. Jika ingin menjadi psikolog profesional, harus mengambil magister profesi psikologi yang berada pada strata 2.

Batasan kompetensi yang membedakan antara seorang sarjana psikologi dan psikolog adalah kewenangan untuk memberikan diagnosis dan intervensi psikologis. Oleh karena itu, seorang sarjana psikologi tidak diperkenankan membuka praktik psikologi, tapi diperbolehkan untuk membantu praktik yang dijalankan oleh psikolog bersertifikasi.

Tabir Dunia Psikologi
Lalu, rugi dong kalau sarjana psikologi tidak melanjutkan ke jenjang magister psikologi? Tidak juga, tergantung dari orientasi Anda. Dunia perusahaan (dunia industri) biasanya membuka peluang karier bagi sarjana psikologi, kebanyakan di bidang HRD atau di bidang recruitment & assessment.

Biasanya, sarjana psikologi yang menekuni dunia HRD mengurusi masalah karyawan dari hulu hingga ke hilir. Mulai dari proses pencarian calon karyawan, proses seleksi, perekrutan, pengelolaan, konseling karyawan, hingga sampai ke penilaian performa kerja.

Sesuai dengan karakter dunia industri yang dinamis, seringkali ada prinsip-prinsip teoretis yang harus dipangkas demi kepentingan praktis, terutama menyangkut masalah seleksi dan perekrutan karyawan.
Nah, tapi jika Anda ingin menjadi seorang spesialis dalam bidang personality assessment atau organizational development, sebaiknya memang melanjutkan pendidikan ke jenjang profesi psikolog industry dan organisasi.

Lain ceritanya jika Anda ingin menekuni dunia psikologi klinis atau pendidikan. Anda sebaiknya langsung meneruskan pendidikan profesi psikolog. Bidang kerja psikologi dalam dunia klinis atau pendidikan biasanya mencakup diagnosis dan intervensi kepribadian.

Diagnosis adalah penentuan kondisi kepribadian seseorang berdasarkan gejala yang dianalisis melalui serangkaian tes dan penilaian. Sementara intervensi adalah penanganan terhadap kondisi kepribadian tersebut (jika memang ada perilaku yang ingin diubah).

Jadi, psikolog memang bukan dukun yang bisa menilai kondisi kepribadian seseorang hanya berdasarkan penerawangan semata. Butuh sejumlah tahapan ilmiah sebelum memberikan diagnosis dan intervensi yang tepat.

Bidang psikologi pendidikan umumnya menangani kasus-kasus pendidikan dunia anak dan remaja. Kasus-kasus yang lazim terjadi seperti keterlambatan proses belajar, penyesuaian kemampuan belajar siswa di sekolah, hingga penanganan pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus.

Psikolog pendidikan juga dapat terlibat dalam penyusunan kurikulum yang disesuaikan dengan kemampuan psikologis anak. Bagi Anda yang tertarik dengan dinamika kepribadian dan kondisi kejiwaan manusia, psikologi klinis adalah pilihan tepat.

Bidang ini seperti tools yang membantu Anda untuk ‘menguliti’ dan menganalisis perilaku manusia secara menyeluruh (contoh artikel tentang psikologi klinis). Beberapa program pendidikan magister profesi psikologi di Indonesia (salah satunya di UI) sudah membedakan spesialisasi psikologi klinis dewasa dan psikologi klinis anak.

Anda pernah mendengar istilah psikologi forensik? Cabang psikologi ini merupakan irisan antara ilmu psikologi dan dunia hukum, khususnya kriminal. Psikolog forensik bertugas membantu pihak kepolisian dalam penanganan kasus kriminal, seperti wawancara pelaku kriminal, penyusunan pofil pelaku (criminal profiling), dan penggalian informasi dari saksi mata/korban kejahatan.

Profesor Sarlito Wirawan Sarwono merupakan salah satu tokoh psikologi di Indonesia yang banyak terlibat dalam bidang forensik, khususnya terorisme. Selain itu ada juga Reza Indragiri Amriel, salah satu tokoh yang ikut mempopulerkan psikologi forensik di Indonesia. Ia cukup sering tampil di televisi untuk memberikan analisis terhadap kasus-kasus kriminal di masyarakat.

Ada satu kompetensi yang, menurut saya, mutlak dimiliki oleh mereka yang bergelut di dunia psikologi, tapi tak terlalu dibahas secara mendalam dalam kurikulum formal, yaitu kemampuan menjadi pendengar yang baik.

Sarjana psikologi maupun psikolog pasti selalu berhadapan dengan manusia. Termasuk ketika menjalani proses penilaian dengan metode wawancara ataupun psikotes. Cara terbaik untuk memahami kondisi psikologis orang lain adalah dengan mendengarkan mereka.

Pada beberapa kasus, konselor psikologi atau psikolog (dengan pengalaman yang mereka miliki) cenderung berperan sebagai orang yang serba tahu kondisi psikologis kliennya.

Analoginya sama seperti seorang dokter yang tanpa mendengarkan keluhan pasien, langsung memberikan diagnosis penyakit. Si dokter merasa sudah berkali-kali menangangi pasien dengan gejala yang sama, lalu tanpa bertanya, ia menyimpulkan bahwa penyakit si pasien pasti sama dengan penyakit pasien sebelumnya. Padahal bisa jadi kesimpulan itu keliru.

Sifat dasar manusia memang senang didengarkan daripada mendengarkan. Artinya, manusia memang lebih suka berbicara daripada mendengarkan. Oleh karena itu, psikolog berperan sebagai pendengar profesional.

Dosen saya pernah bilang begini, “Alat tes psikologi itu hanyalah external tools untuk mengungkap kepribadian manusia. Alat ukur yang sebenarnya, ada di sini (beliau memegang kedua telinganya) dan di hatimu.” Seperti tagline sebuah perusahaan asuransi, always listening, always understanding.

Selain kemampuan intelektual, memang dibutuhkan karekteristik kepribadian yang khas untuk menjadi seorang sarjana psikologi, lebih-lebih menjadi psikolog. Minimal, kita bisa berempati dan mampu menjadi pendengar yang baik bagi orang lain.

Terlihat sederhana, tapi cukup sulit untuk dilakukan. Apalagi di tengah kondisi masyarakat yang serba terbuka, ingin cepat, dan setiap orang maunya berbicara. Kalau semuanya berbicara, siapa lagi yang bisa mendengarkan dan memahami?

Referensi

0 comments:

Post a Comment

 
Copyright © . Rahasia Otak Jenius - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger